Posted by: Warna-warni Bumi | 2009, November 13

Kenapa Kamu Berjilbab?

Penulis:  http://melraj04.multiply.com/journal/item/18

Seandainya saya bertanya demikian atau siapa pun yang bertanya demikian, maka pertanyaan itu tentu dituju kepada kaum Hawa. Kenapa? Ya, karena yang wajib menutup kepala itu (dalam Islam) yaitu kaum Hawa bukan kaum Adam. Sekali lagi kaum Hawa!

Apabila ada yang bertanya, kenapa harus kaum Hawa? Pertanyaan yang unik tentunya. Karena kaum Hawa itu mempunyai “Keindahan” yang harus ditutupi dan hanya boleh dilihat oleh mereka-mereka yang berhak (saudara sedarah atau suaminya) selain dari mereka sama sekali tidak berhak.

Lalu, ada kawan dari kawan saya yang bertanya seperti ini,

“Kalau perempuan itu mempunyai “keindahan” kenapa harus ditutupi? Seharusnya untuk dilihat dan dinikmati, bukan?”

Nah, jika pertanyaan itu ditujukan ke kamu. Apa yang akan kamu jawab? Kawan saya sempat bingung memikirkan jawaban dari pertanyaan itu. Benar-benar pertanyaan yang rumit dan sulit.

Kawan saya – sebaiknya saya memanggilnya kakak atau mbak karena beliau lebih tua dari saya – menjawab begini,

“Justru karena “indah” itulah harus ditutupi dan dilindungi dari pandangan orang (laki-laki) yang tidak berhak melihatnya. Menurut kamu, apakah kamu rela jika “keindahan” kamu dilihat oleh orang lain yang kamu tidak rela jika orang itu melihatnya? Tentu saja kamu tidak mau kan “keindahan” kamu itu dijamah oleh orang yang sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan kamu?”

Saya tertegun mendengar penuturan kawan saya. Kawan saya sengaja tidak menyinggung dari segi Agamanya, karena kalau ujung-ujungnya dari kacamata Agama orang akan malas mendengar dan mengatakan kita sedang ceramah, kilah kawan saya saat saya menyinggung mengenai ketentuan berjilbab dalam Islam.

Saya juga setuju dengan pendapat kawan saya, kita tidak bisa mengira seperti apa lawan bicara kita. Mungkin lawan bicara kita belum tentu sangat paham tentang Islam atau malah nonIslam. Jadi, mencari kata yang tepat tanpa menyinggung Agama sangat efektif dari pada membawa-bawa dalil Agama yang akhirnya malah terkesan menceramahi orang.

Memang, dalam Islam telah ditentukan kalau kaum Hawa itu harus mengenakan kain penutup kepala seperti yang diterangkan dalam surat Al-Ahzab ayat 59 atau surat An-Nur ayat 31. Kain penutup kepala itu bukan dalam artian berjilbab untuk “buka tutup”, kalau mau bepergian baru berjilbab, kalau tidak bepergian tidak berjilbab. Itu sama saja dengan kamu mempermainkan ketentuan Agama (Al-Qur’an).

Kesadaran berjilbab itu memang datang dari diri kamu sendiri (kaum Hawa ya) bukan dari atau paksaan orang lain. Ada yang berjilbab saat pemahaman Agamanya benar-benar bagus. Ada yang berjilbab karena suatu ketentuan selepas dari ketentuan itu jilbabnya dilepas. Atau berjilbab malah suatu tren karena artis idolamu itu berjilbab. Kalau demikian gak ikhlas namanya, mbak!

Sadar berjilbab itu dari kamu, seperti kata kawan saya (lagi). Kalau tidak punya kesadaran sendiri akhirnya lepas juga.

“Ada kawan mbak yang berjilbab karena suatu ketentuan tertentu (terpaksa dengan kata lain), selepas dari ketentuan itu lepas pula jilbabnya!”

Aneh memang, tapi memang seperti itu adanya. Itu faktanya. Pemahaman Agamanya gak kuat, jilbabnya juga gak akan “kuat” bertendeng di kepala.

Ada lagi seorang kawan saya yang sempat bercerita kepada saya.

“Pertama sekali kakak berjilbab, rasanya seperti baru terlahir kembali. Kawan-kawan pada ucapin selamat, malah ada yang sujud syukur segala. Namun ada pula yang terkejut, senang, bahkan ada yang gak terima kalau kakak sudah berjilbab.”

Duh, harusnya. Itu diluar Aceh.

Bagaimana dengan di Aceh? Wah, beda banget. Aceh itu Syariat Islam. Nah, apa hubungannya? Ada dong. Setiap kaum Hawa di Aceh itu harus berjilbab atau harus mematuhi aturan-aturan yang berlaku di Aceh.

Tapi, kita tidak perlu berbicara Syariat Islam disini. Ada hal yang perlu kita garis bawahi mengenai jilbab di Aceh.

Di Aceh, kesadaran berjilbab itu banyak sekali. Sebelum Syariat Islam, kaum Hawa di Aceh sudah ada yang berjilbab dan itu kesadaran sendiri. Apalagi di daerah pedesaan yang Islamnya masih sangat kental. Seperti budaya yang sudah sangat melekat dalam diri masyarakat Aceh untuk berjilbab (menutup kepala). Kalau tidak berjilbab seakan malu! Semua orang berjilbab, apa alasan untuk tidak berjilbab?

Lalu, bagaimana dengan sadar dan tidak sadar tadi? Itu kembali kepada diri kamu sendiri. Kamu punya keinginan gak berjilbab? Kalau kamu gak niat jangan dulu deh, akhirnya buka tutup lagi nanti. Berjilbab itu bukan karena ketentuan di suatu tempat, bukan karena tren, bukan karena paksaan, dan bukan karena apa pun. Berjilbab itu kesadaran kamu dan juga kecintaan kamu terhadap diri kamu juga terhadap Islam sebagai peganganmu. Kalau pemahaman Islam kamu masih dipertanyakan atau pas-pasan. Kamu musti mikir dua kali untuk berjilbab. Dari pada akhirnya lepas lagi yang rugi juga kamu. Benar gak?

Saya cuma berpesan satu  untuk kamu (kaum Hawa pastinya; kaum Adam untuk dimengerti saja siapa tahu kamu mendapatkan Istri yang belum berjilbab nanti). Mantapkan diri kamu dan pikirkan lebih matang sebelum kamu mengambil keputusan “besar” itu. Lebih baik berpikir dari pada kamu menyesal di kemudian hari.

Akhirnya, semua itu kembali ke kamu. Kamu yang akan menjalaninya.

^^^

Banda Aceh, 04 Juli 2007


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: