Posted by: Warna-warni Bumi | 2009, November 14

Seni Menata Rasa Kecewa

SENI MENATA RASA KECEWA

 

Penulis: Syamsul Arifin

 

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah mengikuti acara kajian bedah buku Tarbiyah Politik Hasan Al Banna karangan Syeikh DR Yusuf Qardhawi.

 

Saya menemui bahwa pemateri yang seharusnya hadir pada saat itu tidak bisa hadir, dan karena saya harus menghadiri suatu acara yang juga penting pada hari itu, maka saya putuskan tidak mengikuti acara sampai selesai. Padahal saya sangat ingin mendengar bedah buku karangan penulis kesukaan saya, dibedah oleh seorang yang sangat mungkin memiliki kompetensi yang besar.

 

Dalam perjalanan, ada sedikit rasa kecewa yang menelusup dalam dada. Fiuuh..

 

Namun, ku renungi dan ku mendapati beberapa hal berikut yang boleh jadi bisa digunakan tuk mengatasi terpaan rasa kecewa dalam kehidupan kita. Dalam hubungan bersama keluarga, di kantor, di masyarakat, dan dimanapun kita berada.

 

Dalam menyikapi rasa kecewa, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar ia tidak menjadi berlebihan, bersifat negatif, dan boleh jadi bisa jadi hal yang menguntungkan.

 

Pertama, gantungkan harapan hanya pada Allah.

 

Mengantungkan harapan hanya kepada Allah semata, dengan mengikhlaskan/ meluruskan niat amalan hanya kepada Zat yang maha menepati harapan. Dan tempat dari point pertama ini berada di awal perbuatan, selama perbuatan, dan pada akhir segala perbuatan.

 

“The higher your expectation is, the more pain you’ll get”, semakin besar rasa pengharapanmu, maka akan semakin besar pula rasa sakit yang akan kau dapat. Dan jika kita menggantungkan pengharapan kepada mahluk yang bernama manusia, maka bersiap-siaplah untuk mengalami rasa kecewa, sebab manusia adalah tempatnya khilaf/salah.

 

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (QS. Al Ikhlas: 2)

 

Kedua, syukuri apa yang ada.

 

Kita memang tidak pernah bisa mendapatkan setiap hal yang kita inginkan, namun kita akan selalu bisa mensyukuri setiap hal yang kita dapatkan. Dengan bersyukur, kita telah menjadi pribadi yang bermental positif, karena yakin bahwa Allah pasti memberi hal yang terbaik.

 

Bukankah Allah teramat sayang kepada hamba-hambaNya, dan bukankah ia pasti kan memberikan segala yang terbaik untuk hamba-hambaNya? Dan bukankah kita yakin bahwa Allah maha menepati janji?

 

Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisaa’: 29)

 

Dengan bersyukur, kita bisa melihat kebaikan dari segala sesuatu. Karena bisa jadi, hal yang menurut kita mengecewakan merupakan suatu hal yang terbaik untuk kita. Dan belum tentu, apa yang kita harapkan, merupakan hal yang baik bagi kita.

 

Ketiga, bersabar

 

Jika hal yang menimpa diri kita berupa musibah yang akhirnya akan menggoreskan kekecewaan dalam diri, maka sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk bersabar.

 

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

 

Sabar bukan berarti hal yang pasif saja, sabar juga bersifat proaktif. Karena sabar terdiri dari tiga hal, sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam mengerjakan kebaikan, dan sabar dalam menahan diri dari mengerjakan perbuatan maksiat.

 

Jangan pernah menangisi nasi yang telah menjadi bubur, namun berilah ia bumbu, kecap, kacang, dan kerupuk, agar bisa menjadi bubur yang lezat.

 

Dan sungguh, kesabaran hanya akan menambahkan pahala kebaikan pada diri kita.

 

”Seorang hamba yang ditimpa musibah, lalu mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, llahumma’jurni fi mushibati wa ahlif li khairan minha (sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita dikembalikan. Ya Allah, berilah aku ganjaran dalam musibahku ini dan berilah ganti kepadaku dengan yang lebih baik darinya), niscaya Allah akan memberi ganjaran padanya dalam musibahnya dan akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya.” (HR Muslim).

 

Keempat, tawakal

 

Tawakal merupakan perpaduan yang indah antara kepasrahan diri dengan ikhtiar/usaha yang optimal.

 

Setelah kita ikhitiar dengan optimal, maka seharusnya kita bertawakal atas segala hasil yang kita kan dapatkan. Toh, manusia hanya dituntut tuk berusaha atau berproses dan tidak berorientasi pada hasilnya, sebab hasil di dunia itu sudah ditentukan dan hasil di akhiratlah, balasan yang terbaik itu didapat.

 

Dalam riwayat Imam Al-Qudha’i disebutkan bahwa Amr bin Umayah Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah!, Apakah aku ikat dahulu unta (tunggangan) -ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal? ‘Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah”. (Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368)

 

 

Semoga dengan mempraktekan keempat hal tersebut, tiada lagi kata kecewa dalam hati kita, karena kita telah berharap hanya kepada Allah, berusaha dengan optimal, mensyukuri segala hasil usaha, dan bersabar atas apa yang menimpa. Insya Allah.

 

 

 

Jakarta, 1 April 2008

 

Diposting di Multiply: http://genkeis. multiply. com/journal/ item/194

Syamsul Arifin, SKM
E-mail: syamsul.arifin@ yahoo.com
Mobile ph. +62 8569889007
Website: www.ipin4u.co. nr

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: